Thursday, March 17, 2011

Amerika dan Sekutu Serang Libya Serangan udara Amerika Serikat dan sekutunya ini merupakan yang terbesar kedua

Amerika dan Sekutu Serang Libya Serangan udara Amerika Serikat dan sekutunya ini merupakan yang terbesar kedua.Amerika Serikat dan sekutunya akhirnya melancarkan serangan ke sejumlah pos pertahanan udara Libya. Pada serangan tahap pertama tersebut, sedikitnya 112 rudal ditembakkan sejumlah kapal perang dan kapal selam milik Amerika Serikat dan Inggris.

Sebanyak 20 fasilitas pertahanan milik Muammar Khadafi menjadi sasaran rudal-rudal Tomahawk itu. Tujuannya, demi membersihkan area agar patroli angkatan udara bisa mendarat.

Associated Press, Minggu, 20 Maret 2011 mengabarkan, seorang pejabat senior dari Departemen Pertahanan AS menyebutkan, meski dampak pengeboman belum diketahui, pihaknya yakin dengan akurasi rudal jelajah milik pasukan kedua negara itu. Sejumlah fasilitas pertahanan udara Libya diperkirakan mengalami banyak kerusakan.

Sebelum serangan dilancarkan, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama telah memberikan ultimatum kepada pemimpin Libya Muammar Khadafi. Obama mengancam, jika Khadafi tidak menghentikan serangan pada warga sipil, ia akan menghadapi serangan militer.

“Kini bukan saatnya negosiasi,” kata Obama. “Jika Khadafi tidak menaati resolusi Dewan Keamanan PBB, komunitas internasional akan memaksakan resolusi lewat aksi militer,” ucapnya.

Meski demikian, tidak seluruh negara pemilik hak veto mendukung langkah yang diambil Amerika Serikat dan sekutunya. Rusia dan China, yang merupakan dua negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB lainnya menentang langkah tersebut. Demikian pula India dan Brasil yang tidak mempunyai hak veto.

Dari Uni Eropa, muncul pula ketidaksepakatan. Pemerintah Jerman khawatir, aksi militer justru hanya akan memperparah situasi.

Di saat yang sama, Hugo Chavez, Presiden Venezuela menuduh Amerika Serikat ingin mengamankan minyak Libya. “Mereka tidak mempedulikan nyawa orang lain di kawasan tersebut,” tuduh Chavez, seperti dikutip dari CNN, 20 Maret 2011.
48 orang tewas
Serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan sekutunya dari Uni Eropa ke sejumlah titik itu diperkirakan telah menewaskan sedikitnya 48 orang. Serangan udara ini merupakan terbesar kedua setelah tindakan serupa yang ditujukan untuk menjatuhkan rezim Saddam Hussein di Irak.

TV Libya, mengutip informasi dari angkatan bersenjata mengatakan, 48 orang tewas dan 150 terluka dalam serangan sekutu itu. Dikabarkan, sebagian besar di antara korban tersebut adalah anak-anak. Sayangnya, tidak ada rincian lebih lanjut mengenai korban.

Jika Amerika Serikat dan Inggris meluncurkan rudal Tomahawk ke 20 titik pertahanan Libya, pesawat jet tempur Prancis menyerang lewat udara. Mereka menembakkan rudal ke kawasan timur negeri itu.

Serangan yang dilancarkan Prancis bertujuan untuk menegakkan zona larangan terbang sesuai dengan resolusi PBB yang merupakan upaya dunia internasional untuk menghentikan Khadafi.

Seperti diketahui, Dewan Keamanan (DK) PBB memutuskan pemberlakuan resolusi zona larangan terbang di Libya pada Kamis, 17 Maret 2011, melalui proses pemungutan suara. Untuk itu, DK PBB akan mengerahkan pesawat jet tempur Amerika Serikat, Prancis dan Inggris, untuk menjaga wilayah udara negeri itu. Langkah ini disambut baik oleh kelompok oposisi anti Khadafi di Libya.

PBB bersikeras, zona larangan terbang di Libya bertujuan melindungi nyawa warga sipil tidak berdosa. Dengan diberlakukannya zona larangan terbang, pesawat jet tempur Libya tidak diperbolehkan mengudara. Jika membandel, mereka akan diserang oleh pasukan DK PBB yang berpatroli. Zona larangan terbang di atas Libya juga didukung oleh Liga Arab.

Obama, yang di saat yang sama sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke Brasil mengatakan, aksi militer bukanlah pilihan pertama yang ia miliki. Selain itu, ia menegaskan, Amerika Serikat tidak akan mengirimkan pasukan darat ke Libya.

"Ini bukan keputusan Amerika Serikat atau salah satu mitra kami," kata Obama dari Brasil. "Kami tidak bisa berpangku tangan ketika seorang tiran menyatakan pada orang-orang di sana bahwa tidak akan ada belas kasihan."

Khadafi membalas

Diserang, Khadafi bersumpah akan menghadirkan perang jangka panjang di negeri tersebut. Serangan itu bahkan disebutnya sebagai konfrontasi antara warga Libya dan Nazi baru.

“Anda telah menunjukkan pada dunia bahwa Anda tidak beradab, Anda teroris, yang menyerang sebuah negara yang aman yang tidak melakukan apa pun pada Anda,” ucap Khadafi dalam pidatonya di televisi, seperti dikutip dari CNN.

Namun, bersama dengan pidatonya, rezim Khadafi mulai menghujani kota Misurata dengan tembakan dari tank, artileri, dan meriam. Menurut saksi mata yang minta identitasnya dirahasiakan, tentara menghancurkan kota yang terletak 210 kilometer barat laut Tripoli itu.

Saksi itu menyebutkan, tentara Khadafi menyerang stasiun bahan bakar dan gardu listrik dan meyakinkan warga bahwa kerusakan disebabkan oleh tentara sekutu.

Perlawanan pun dilancarkan oleh para pemberontak. Belum diketahui berapa jiwa yang telah menjadi korban. Sebagai langkah berikutnya, Khadafi berjanji membuka gudang senjata.
Menurut dia, Piagam PBB menyediakan hak pada sebuah negara untuk membela diri dalam situasi perang. Ia juga mengeluarkan pernyataan untuk dunia internasional bahwa warga Libya siap mati untuknya.

Seorang saksi mata di Tripoli menyebutkan, warga menerima pengumuman bahwa semua orang harus turun ke jalan. “Warga sipil diperkenankan untuk mengambil senjata mesin dan senjata anti pesawat udara,” ucap saksi mata tersebut.

Saksi mata lainnya mengaku, warga Libya kini takut ke luar rumah. Alasannya, jika warga ke luar, tentara akan menyerang mereka dengan sadis. “Ini menghadirkan teror di seluruh wilayah,” sebut saksi mata itu.

Warga juga tak berani membayangkan respons apa yang akan diberikan Khadafi terkait serangan udara itu. “Kami sangat ketakutan. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Jujur saja, kami takut kehilangan hidup kami,” ucap saksi mata itu.

Meski demikian, Amerika Serikat memprediksi, mereka hanya akan mengambil bagian dalam tindakan militer di Libya selama beberapa hari. “Setelah itu, kami hanya akan mengambil posisi sebagai pendukung,” sebut seorang pejabat senior yang tidak diperkenankan untuk mengungkapkan permasalahan sensitif terkait militer. (art)
• VIVAnews

No comments:

Post a Comment

 

Popular Posts